SERING Terjadi, Kenapa Banyak Orang Indonesia Jadi Korban Penipuan lewat Modus OTP?

TRIBUNTRENDS.COM – Banyak modus penipuan di zaman digital.

Salah satunya adalah lewat modus OTP.

Penipuan modus OTP sering terjadi dan sudah banyak korbannya di Indonesia.

Kejahatan digital disebut semakin meningkat, terlebih setelah munculnya aplikasi e-commerce dan kegiatan jual beli online.

Modus yang sering dipakai adalah penipuan (phising) secara langsung maupun tidak langsung.

Baca juga: WASPADA Penipuan Online Phising, Ikuti 4 Langkah untuk Menghindarinya, Apa Saja?

Baca juga: WASPADA! Kenali 5 Tanda WhatsApp Sedang Disadap, Termasuk Akun Tiba-tiba Logout dengan Sendirinya

Ilustrasi modus penipuan online (freepik.com)

Apabila secara langsung, para pelaku akan menelepon calon korban dan mengelabui psikologis mereka, untuk mendapatkan kode One Time Password (OTP).

Sementara, phising secara tidak langsung biasanya dilakukan dengan menyebarkan “link bodong” melalui SMS, e-mail, nomor telepon, atau data pribadi pengguna yang berujung dengan mencuri kode OTP.

Tak sedikit penduduk Indonesia yang menjadi korban dari aktivitas kejahatan ini.

Lantas, mengapa pencurian kode OTP menjadi modus yang paling sering dijumpai dalam tindak kejahatan digital?

Elsya M.S. Chani, Ketua Grup Perlindungan Konsumen Bank Indonesia mengatakan keberhasilan pembobolan kode OTP disebabkan oleh kurangnya literasi yang dipahami oleh masyarakat di Indonesia.

“Tingkat pemahaman konsumen indonesia, dan literasi konsumen pada instrumen keuangan masih rendah,” tutur Elsya.

Ilustrasi penipuan online pishing
Ilustrasi penipuan online (freepik.com)

Berdasarkan Survei literasi dan inklusi keuangan Indonesia yang dilakukan OJK pada 2019, tingkat literasi digital masyarakat Indonesia hanya 38,3 persen, dan kewaspadaan konsumen terhadap kejahatan elektronik relatif rendah, yaitu 36,2 persen.

Padahal jumlah akses penduduk terhadap instrumen keuangan dan layanan jasa keuangan sangat tinggi, yakni 76,19 persen.

“Ini menunjukkan secara tidak langsung ada 38 persen penduduk indonesia yang menggunakan jasa layanan keuangan pembayaran, tetapi tidak paham atas risikonya. Ini berbahaya di ranah digital,” ujar Elsya dalam Seminar Daring yang digelar Kamis (24/9/2020).


Selengkapnya

Leave a Reply

Detik-detik Satpam Digigit Ular di Perumahan Elite Terekam Kamera Small Earthquake Rattles South Bay Near Milpitas Cantik Emma Stone yang Baru Saja Menikah Mobil Terbang Fenomena Halo Matahari di Langit Jawa Timur Prewedding Terbaru Nikita Willy & Bos Blue Bird Desa Nelayan Paling Nyentrik Dunia Kelebihan Tes COVID oleh Anjing Dibanding PCR Rumah Orang Terkaya Dunia Aksi Protes Perubahan Iklim Global di Berbagai Negara