Jejak Pandemi di industri film Indonesia, 2021-2022

Seperti biasa di awal tahun, filmindonesia.or.id (FI) mempublikasikan pandangan tahunan tentang perkembangan industri film Indonesia mengacu pada pengolahan atas data yang dikumpulkan FI dalam periode satu tahun sebelumnya. FI terakhir menurunkan pandangan umum di awal 2021 [baca disini] yang menunjukkan pukulan pandemi Covid-19 atas industri film serta respon solidaritas dan upaya bertahan di berbagai sektor film Indonesia sepanjang 2020. Di awal 2022, FI tidak mengeluarkan laporan industri film Indonesia di 2021, kondisi jauh lebih buruk dibandingkan tahun awal pandemi. Menjelang akhir 2022, harapan besar pada penguatan indutri film Indonesia membesar, antusiasme tampak pada aktivitas usaha dan kegiatan film, festival, workshop-workshop, dan besaran jumlah penonton. Tulisan ini merupakan upaya rangkuman hasil pengolahan data dua tahun terakhir (2021 & 2022) yang dikaitkan dengan capaian di awal 2023 dengan melihat data dari 2018-2019 sebelum pandemi melanda.

Perkembangan bioskop

Seperti dua tahun sebelumnya, sepanjang 2022 aturan PPKM (Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) masih berlaku mengikuti kondisi perkembangan kasus penularan Covid-19. Walau kasus aktif Covid-19 masih ditemukan, aturan PPKM mulai mengalami pelonggaran di banyak wilayah di Indonesia sejak pertengahan 2022. Pelonggaran terjadi seiring melandainya jumlah kasus aktif Covid-19, peningkatan cakupan vaksin dosis 2 di seluruh Indonesia (di atas 70% di Maret 2022) 1 serta telah dimulainya pemberian vaksin booster (Januari 2022) 2. Memasuki Maret 2022, bioskop di Jabodetabek sudah dapat beroperasi dengan kapasitas 100% (sebelumnya masih antara 50% – 75%) 3. Sementara, untuk Jawa-Bali ketentuan kapasitas bioskop 100% baru memasuki bulan Agustus 2022 4.

Melihat kembali keadaan bioskop Indonesia dalam dua tahun terakhir dan kemudian membandingkannya dengan situasi sebelum pandemi dapat memberi konteks dalam melihat capaian industri film di akhir 2022. Mengapa memulai gambaran tahunan dari bioskop? Sektor eksibisi konvensional ini, sejak awal sejarah film, merupakan ruang utama public screening yang mempertemukan film dengan penontonnya. Di dalam ruang bioskop terjadi peristiwa sosial-budaya (sebagai titik awal rangkaian aktivitas apresiasi film) sekaligus peristiwa ekonomi (masih menjadi pilihan dominan untuk mengawali eksploitasi ekonomi atas film). Maka, relevan untuk meneropong profil industri film nasional berangkat dari perkembangan bioskop.

Sebagai ruang atau arena pertemuan, bioskop punya jenis yang beragam, masing-masing saling beririsan sebagai respon atas keseimbangan antara aspek budaya dan ekonomi. Semua bentuk bioskop atau apapun bentuk eksibisi film memberi dampak pada industri secara keseluruhan. Sementara adanya penghentian aktivitas bioskop di masa pandemi, produsen film mencari eksibisi alternatif lain yang sebelumnya sudah tersedia 5. Film-film yang gagal masuk bioskop, dirilis di kanal-kanal eksibisi berbentuk private viewing melalui akses streaming lewat internet (dikenal juga sebagai media OTT, Over-The-Top). Walau semua bentuk eksibisi film penting bagi industri, profil tahunan FI memiliki batasan, paparan ini hanya didasarkan atas pengumpulan data digital aktivitas usaha bioskop berjaringan dan non-jaringan.

Perkembangan bioskop di Indonesia di akhir 2022 ini mengacu pada olahan data kuantitatif terkait  pertumbuhan bioskop serta layar, film yang dirilis, jam tayang film/show dan penonton. Di tahun pertama pandemi terdapat 13 bioskop tutup permanen (jumlah tertinggi dibandingkan dengan tahun 2018 & 2019) dan pembukaan 17 bioskop baru (yang tidak bisa langsung beroperasi). Di 2021 & 2022, bioskop tutup permanen jumlahnya jauh berkurang, bahkan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelum pandemi. Namun, penambahan jumlah bioskop baru di 2021 & 2022 masih di bawah angka 2020. Dari segi pola penyebaran wilayah, penambahan bioskop tidak banyak berubah jika dibandingkan tahun-tahun sejak 2018. Penambahan bioskop baru masih terkonsentrasi di Jawa dan provinsi Jawa Barat

 

Grafik Penutupan Bioskop dan Pembangunan Bioskop Baru dan Tutup, 2018-2022

 

 

Grafik Pertumbuhan Bioskop dan Layar, 2018-2022

Bioskop dan layar 2018-2022

Jumlah penduduk dan tingkat kepadatan penduduk bisa dijadikan alasan mengapa konsentrasi bioskop masih berada di Jawa, dan terutama di provinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta. Dengan 48,7 juta jiwa, Jawa Barat masih menjadi provinsi berpenduduk terbanyak, posisi kedua dipegang oleh Jawa Timur dengan 40,8 juta jiwa. Total penduduk 5 provinsi di Jawa sebesar 152.5 juta, atau 56 % dari total jumlah penduduk Indonesia. Sementara, dari segi tingkat kepadatan penduduk, DKI Jakarta berada jauh di atas seluruh provinsi dengan 15.978 jiwa/km2, adapun Jawa Barat di posisi kedua 1.379 jiwa/km2 6. Jumlah penduduk dan tingkat kepadatan wilayah mencerminkan tingkat aktivitas ekonomi yang tinggi serta perputaran uang yang berpengaruh pada iklim investasi. Paling tidak, dapat dilihat dari tabel 12 provinsi yang memiliki lebih dari 10 bioskop.

Tabel provinsi dengan bioskop lebih dari 10

Bioskop berdasarkan provinsi

 

Perlu ada kajian publik lebih lanjut tentang profil wilayah di Indonesia dari segi politik-ekonomi untuk melihat tingkat kelayakan investasi bioskop. Hal tersebut diperlukan karena selain aspek jumlah penduduk dan tingkat kepadatan juga terdapat aspek lain seperti terkait luas wilayah, infrastruktur, regulasi, dan penerimaan masyarakat. Terkait infrastruktur ekonomi wilayah untuk menunjang perluasan jumlah bioskop memang menjadi perhatian mengingat investasi bioskop tidaklah murah. Paling tidak, satu bioskop dengan 5 layar membutuhkan 30 – 50 milyar rupiah.7

Selain pertumbuhan jumlah bioskop dan layar, dari aktivitas bioskop juga diperoleh informasi terkait jumlah film Indonesia yang ditayangkan dan jumlah slot tayang film Indonesia dalam periode tertentu. Kedua aspek tersebut berkorelasi dengan pertumbuhan jumlah penonton film Indonesia di bioskop.

 

Jumlah penonton, melampaui harapan?

Menjelang akhir 2022 hingga bulan pembuka 2023 dimeriahkan oleh capaian mengejutkan atas jumlah penonton film Indonesia. Berbagai media serta tokoh-tokoh menyambut kabar yang menguatkan harapan, seperti sejalan dengan tema HUT RI ke 77, “Pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat”. Menjelang akhir tahun, berita tentang capaian penonton yang melampaui angka sebelum pandemi menarik perhatian internasional 8. Harapan di 2023 film Indonesia akan jauh lebih baik didorong optimisme dari jumlah penonton film Indonesia di 2022 yang melebih 54 juta 9. Jika mengacu pada pengumpulan data jumlah penonton film Indonesia yang dilakukan oleh FI sejak 2012, berita tentang capaian 54 juta penonton adalah jumlah tertinggi. Bagaimana dengan data yang dikumpulkan oleh FI?

Dalam setiap laporan tahunan tentang perkembangan industri film yang pernah dikeluarkan [tautan pandangan tahun sebelumnya], FI selalu merilis jumlah penonton film Indonesia tahunan mengacu pada akumulasi capaian penonton film-film Indonesia yang dirilis / tayang perdana di bioskop pada tahun bersangkutan. Sementara, dari pengumpulan data tayang/show film Indonesia sepanjang tahun ditemukan bahwa bioskop tidak hanya menayangkan film-film Indonesia yang dirilis pada tahun berjalan, melainkan juga menayangkan film-film dari waktu sebelumnya.

Sebagai contoh, di tahun 2019 terdapat 130 judul film Indonesia yang dirilis di bioskop. Sementara dari pengumpulan data jam tayang/slot diketahui terdapat 141 judul film Indonesia yang tayang di bioskop sepanjang 2019. Terdapat 11 judul film yang dirilis perdananya antara 2008 – 2018. Sebagai catatan, film-film dari 2018 umumnya adalah film yang dirilis di minggu terakhir Desember 2018, sehingga mayoritas jumlah hari tayangnya berada di 2019. Dari 11 judul tadi, kecuali film dari akhir 2018, memiliki jumlah jam tayang/show yang sedikit seperti mengisi slot tayang kosong yang tidak dipilih film tahun berjalan. Namun, walaupun sedikit, pengelolaan yang baik atas film lama dalam skala tertentu dapat menyumbangkan akumulasi jumlah penonton dengan angka yang signifikan.

Sebagai gambaran, total jumlah penonton film yang dirilis di 2019 sebesar 51,901,745 orang (jumlah tersebut termasuk film dari 2019 yang rilis di minggu akhir Desember dan tayang cukup lama di 2020). Sementara dari 11 judul film dari rentang 2008 – 2018, diperoleh laporan penambahan jumlah penonton sebesar 1,079,968 orang. Sehingga, alih-alih menampilkan capaian jumlah penonton film Indonesia di 2019 sebesar  51,901,745 orang, Jumlah penonton tahunan yang akan ditampilkan FI adalah  52,981,713. Di bawah dapat dilihat perbandingan antara jumlah judul film Indonesia yang dirilis dengan jumlah judul film Indonesia yang tayang di 2018 – 2022, berikut jumlah film rilis di bulan Desember.

 

Tabel Film yang tayang di bioskop, 2018-2022

Film tayang di bioskop

 

Jumlah film yang dirilis di Desember dari tahun sebelumnya disertakan pada tabel di atas karena film-film tersebut dipastikan akan tayang hingga berakhir antara Januari – Maret di tahun setelahnya. Sebagai contoh, sepanjang 2022 terdapat 11 judul film yang tayang di bioskop dan berasal dari sebelum 2022, 9 judul di antaranya di rilis pada Desember 2021. Untuk tahun 2021, jumlah film tayang yang berasal dari film-film sebelum 2021 dan tidak rilis di Desember 2020 jauh lebih besar (11 judul) mengingat keadaan bioskop yang masih rentan penutupan sehingga sangat riskan bagi film baru untuk mau rilis di bioskop pada periode tersebut. Sementara, bioskop tetap harus berjalan ketika ada kesempatan beroperasi, sehingga sangat masuk akal untuk menggunakan film-film lama (tayang antara Januari – April 2021) karena Juli – September, bioskop kembali tutup total. Sebagai contoh atas apa yang terjadi di 2021, terdapat gambaran di bawah ini:

  • Danur 3: Sunyaruri (2019), tayang antara Januari – April 2021 dengan jumlah 218 jam tayang, memperoleh 5.655 penonton. Sebelumnya di 2019, Danur 3 memperoleh 2.411.036, sehingga di akhir 2021 ia memperoleh total sepanjang penayangan di bioskop sebesar 2.416.691.
  • Habibie & Ainun 3 (2019), tayang hanya 2 hari dengan 18 jam tayang di bulan April 2021. Habibie & Ainun 3 memperoleh 2.794 penonton atau sekitar 150 penonton per jam tayang.
  • Mariposa, dirilis awal Maret 2020 dan hanya beredar 10 hari setelah rilis ketika masih di atas seribu jam tayangnya dengan jumlah penonton 741.496 sebelum bioskop berhenti beroperasi. Mariposa diedarkan kembali pada 31 Desember 2020 dan jumlah jam tayang turun di bawah 20 per hari pada 13 Januari 2021. Sepanjang 2021, Mariposa di bioskop dengan  2.399 jam tayang  dan mendapat 24.933 penonton sehingga totalnya menjadi 766.429.
  • Milea: Suara dari Dilan, rilis awal Februari 2020. Sebelum ditayangkan kembali di Januari 2021, film ini mendapat 3.122.263, di akhir tayangnya di Februari 2021 total penontonnya 3.157.817 atau bertambah 35.554.

Memang dengan contoh di atas, jumlah penambahannya tampak tidak seberapa dibandingkan pendapatan jumlah penonton sebelumnya. Namun, hal tersebut menunjukkan praktek yang bisa dieksplorasi lebih jauh terutama bukan pada film-film yang saat first-run telah mencapai box office, melainkan ditujukan bagi film-film yang memperoleh capaian atau pengakuan apresiasi dari lembaga festival film, baik nasional maupun internasional. Bioskop bisa juga memiliki kurator/programmer film untuk memilih film-film non-genre atau non-box office yang dipandang dapat dipertontonkan ulang di layar lebar di ruang bioskop.

Praktek programming seperti itu dapat turut merawat ingatan penonton dan sekaligus memperpanjang daya hidup film Indonesia. Terkait perhitungan-perhitungan ekonomis, tentunya pelaku usaha eksibisi yang lebih paham, atau jika mungkin diajukan ke dalam skema program pemerintah terhadap film (misalnya lewat program Fasilitasi Bidang Kebudayaan, digitalisasi film, dll). Tentu, jika membungkus ulang (repackaging) film-film lama tersebut ternyata menunjukkan daya tarik ekonomi atau penonton, maka bioskop juga yang diuntungkan.

Menampilkan jumlah hasil kombinasi antara perolehan penonton dari film yang dirilis pada tahun berjalan dan film-film lama sebelumnya ditujukan untuk mendekati situasi realistik industrinya. Total jumlah penonton atas film tayang perdana di tahun berjalan ditujukan untuk melihat “performance” film yang terkait dengan data tayang film. Adapun dihadirkannya data penonton atas film-film lama yang tayang di bioskop untuk menunjukkan jumlah real penonton film Indonesia, sekaligus memperlihatkan daya hidup film yang tidak selalu harus berakhir setelah masa tayang pertama (first-run) di bioskop selesai. Terkait peluang daya hidup film yang panjang (dengan logika film sebagai produk HAKI), saat pandemi dipertegas oleh meluasnya akses penonton ke film Indonesia di media OTT.

Di bawah dapat kita lihat tabel jumlah penonton 2018 – 2022, berdasarkan perolehan per judul film yang rilis di tahun tersebut dan angka hasil kombinasi perolehan penonton dari film-film yang telah rilis di tahun-tahun sebelumnya.

 

Pertumbuhan penonton

Lalu bagaimana korelasi jumlah penonton dengan angka perhitungan data jumlah slot tayang/show? Terkait hal tersebut, yang dikorelasikan tidak dengan jumlah total penonton hasil kombinasi, melainkan total jumlah penonton real berdasarkan perolehan penonton film pada tahun perhitungan. Misalnya, pada total penonton real film 2022, film Argantara yang dirilis 29 Desember, hanya dihitung mendapat 101,481 (total penonton Argantara di akhir tayang di bioskop adalah 1,101,359) sisanya masuk ke 2023. Sehingga secara total, kita bisa melihat korelasi jumlah jam tayang per bulan dengan perolehan penonton per bulan.

 

Tabel jumlah judul film Indonesia per bulan

Jumlah judul per bulan

 

Tabel jumlah jam tayang/show per bulan

Jumlah tayang atau show per bulan

 

Tabel jumlah penonton per bulan. Angka dalam juta

Jumlah penonton per bulan

 

Mengacu pada 5 jumlah perolehan tertinggi setiap tahunnya, tidak terlihat adanya pola yang tetap terkait bulan tertinggi perolehan penonton. Namun, kita bisa lihat dari korelasi alokasi jumlah jam tayang yang menunjukkan bahwa di bulan-bulan tersebut secara berurutan merupakan bulan dengan jumlah jam tayang film Indonesia tertinggi.

Sehingga, kenaikan jumlah penonton film Indonesia di 2022 bahkan dibandingkan tahun-tahun sebelum pandemi adalah salah satunya dapat dilihat dari kenaikan jumlah jam tayang yang melebihi 200 ribu slot jam tayang. Jika kita lihat perolehan 5 judul film terlaris, berdasarkan data FI atas penonton film Indonesia  2007 – 2022, 3 judul filmnya adalah film yang rilis di 2022: KKN Desa Penari, Pengabdi Setan 2: Communion, dan Miracle in Cell No 7.

 

3 film dengan penonton teratas 2022

 

Dalam catatan FI, KKN Desa Penari yang rilis perdana di akhir 30 April 2022 merupakan film dengan penonton tertinggi, dengan angka yang cukup jauh dibandingkan dengan perolehan penonton bioskop di posisi di bawahnya. Namun, hal tersebut dapat dilihat sebagai hasil strategi menyiasati situasi transisi pandemi di awal 2022 ketika bioskop di seluruh Indonesia belum sepenuhnya beroperasi. Pada 30 April, KKN Desa Penari dan KKN Desa Penari (Uncut) dirilis.

Sepanjang Mei 2022, hanya terdapat 13 judul film Indonesia yang beredar (terendah sepanjang tahun) dengan jumlah jam tayang 156,300 (tertinggi antara Januari hingga Juli). Keduanya selesai tayang di bioskop di bulan Juli. Antara Mei – Juli, terdapat 3 judul film dengan penonton di atas 1 juta, The Doll 3 (rilis akhir Mei,   1,764,077 penonton), Ngeri-ngeri Sedap (rilis awal Juni,  2,886,121 penonton), dan Ivanna (pertengahan Juli,  2,793,775 penonton). Sementara hingga akhir Juli, KKN Desa Penari dan KKN Desa Penari (Uncut) mendapat  9,233,847 penonton dari jumlah jam tayang total 126,455, sedikit di bawah Pengabdi Setan 2: Communion yang jam tayangnya mencapai 129,682. Di akhir Desember 2022, dirilis KKN Desa Penari: Luwih Dowo Luwih Medeni, film dengan tambahan lebih panjang 40 menit dari versi i ini tayang dengan 12,929 jam tayang dan mendapat 827.186 penonton.

Seluruh versi film KKN Desa Penari menghasilkan akumulasi jumlah penonton tertinggi. Apa yang terjadi pada film KKN Desa Penari merupakan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, hal yang bisa dipandang sebagai strategi untuk mendapatkan penonton itu sah-sah saja dilakukan karena keputusan sepenuhnya terdapat pada pihak eksibitor. Jika ditempatkan pada konteks tahun transisi dari masa pandemi, apa yang dilakukan oleh produser KKN Desa Penari dengan menghasilkan lebih dari 10 juta penonton dalam situasi yang juga tidak pernah terjadi sebelumnya memberikan dampak keyakinan dan kepercayaan pada industri film, paling tidak di mata publik dan investor. Hal yang bahkan di banyak negara lain, keadaan industri filmnya belum bisa kembali ke posisi semula.

Jadi, apakah jumlah penonton film Indonesia melampaui harapan? Jika dilihat hanya dari aspek jumlah penonton, angka yang melampaui capaian sebelumnya itu hanya membuat kita tertuju pada bioskop saja. Apalagi dengan tambahan informasi tentang market share film Indonesia yang telah melebihi 60% di November 2022.10 Maka, godaan terbesar adalah pengulangan dan terjebak mereproduksi film-film sejenis dengan logika formula. Bisa dipastikan jika hal tersebut terjadi, keseragaman akan membuat film Indonesia kembali ke titik semula.

 

 

Tontonan beragam di pundak semuanya

Seberapa beragam film-film Indonesia saat ini dibandingkan masa-masa sebelumnya? Jika hanya dilihat dari peta genre (mengacu pada kategorisasi yang diberikan oleh produser), memang tidak banyak yang berubah. Genre film drama dengan tema remaja/dewasa awal dan keluarga baik dengan atau tanpa tambahan unsur komedi tetap menjadi primadona. Dari tahun ke tahun, genre film drama yang menarik penonton memiliki tema bervariasi. Terkadang muncul tema-tema tertentu yang  berhasil meraup jumlah penonton dan bertahan beberapa tahun untuk berganti ke tema berbeda.

Kita menyaksikan kemunculan film religi (sering juga disebut film “Islami” atau film bertema Islam) dengan bumbu kisah romantis yang meledak di 2008 dengan film Ayat-Ayat Cinta (Hanung Bramantyo). Selain Ayat-Ayat Cinta, di 2008 terdapat film religi lain dengan narasi di seputar kehidupan remaja atau remaja dewasa yang sedang melakukan pencarian diri, Syahadat Cinta (Gunawan Paggaru) dan 3 Doa 3 Cinta (Nurman Hakim). Selain tiga film tersebut, terdapat film Sang Murabbi: Mencari Spirit yang Hilang (Zul Ardhia) yang tidak beredar di bioskop melainkan di komunitas tarbiyah.

Tentu saja, film religi Indonesia sudah hadir jauh sebelum Ayat-Ayat Cinta (adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Habiburrahman El Shirazy), sebut saja Titian Serambut Dibelah Tudjuh (1959, Asrul Sani; 1982, Chaerul Umam). Namun, sebuah kesimpulan sementara yang perlu diuji kembali dan dibuat karena kurangnya data, fenomena tumbuhnya film bertema religi pasca 2008 tidak lepas dari magnet Ayat-Ayat Cinta. Spektrum narasi film religi terus melebar, dari biografi tokoh-tokoh agama hingga pencarian diri di negara-negara “non-muslim”,  namun kemudian surut sejak 2016, seiring beralihnya perhatian penonton.

Pada film-film dengan formulasi narasi di lingkup genre, variasi tema selalu muncul dan membuat film Indonesia terus beragam. Film Indonesia dengan tema historical drama, baik mengacu pada biografi, peristiwa ataupun sekedar mengambil latar periode waktu di masa lalu, hampir tidak pernah absen dari layar bioskop (tayangan) Indonesia. Untuk sedikit contoh, di 2021 di antaranya ada Kadet 1947 (Rahabi Mandra & Aldo Swastia). Di 2022, terdapat Srimulat: Hil yang Mustahal Babak Pertama (Fajar Nugros). Bahwa keduanya mendapat penghargaan atau nominasi merupakan pencapaian yang selayaknya mendapat apresiasi tinggi.

Dalam konteks film genre, hal yang sama juga terjadi pada film horor. Sebelum 2017, film horor merajai layar bioskop yang didominasi oleh narasi dengan formulasi mistik dan eksploitasi sensualitas perempuan. Joko Anwar yang berhasil dalam eksplorasi genre thriller Indonesia lewat Kala (2007), Pintu Terlarang (2009), dan Modus Anomali (2012), di 2017 ia berhasil menghadirkan horor Indonesia dari tahun 1980 (Pengabdi Setan) dan membawanya ke tempat yang sama sekali berbeda. Pengabdi Setan (2017) mendapat lebih dari 4 juta penonton (tertinggi di 2017) dan kemudian lewat Pengabdi Setan 2: Communion (2022) mendapat lebih dari 6 juta penonton, posisi kedua setelah film KKN Desa Penari. Dari Joko, kedua film horor tersebut bukan saja mendapat sambutan luas penonton tetapi juga meraih pengakuan capaian estetik lewat Piala Citra di Festival Film Indonesia 2017 dan 2022.

Tahun 2017 bisa dikatakan titik awal baru film horor Indonesia, setelah capaian Jelangkung (2001, Rizal Mantovani & Jose Poernomo) yang menjadi fenomena baru dan termasuk film laris pada masanya. Bersamaan dengan Pengabdi Setan (2017), di 2017 terdapat 4 film horor lainnya dengan perolehan di atas 1 juta penonton. Script development naskah film horor berkembang diikuti peningkatan production value membuat penggarapan film horor menjadi lebih serius. Termasuk juga membangun konsep “universe” yang melingkupi narasi film. Dalam catatan FI dari 2007 – 2022, Setidaknya terdapat dua trilogi film horor yang selalu masuk box office atau mencapai lebih dari 2 juta penonton, The Doll (2016, 2017, dan 2022) dan Danur (2017, 2018, dan 2019). Antara 2017 – 2022, kecuali di 2020, film horor selalu masuk dalam daftar box office. Soal keseriusan meningkatkan production value film horor, tidak heran jika biaya produksi pun membesar. Terakhir film KKN Desa Penari menghabiskan kisaran 15 – 20 Milyar rupiah 11, besaran biaya yang umumnya terjadi pada film-film drama sejarah. Dengan capaian film horor dalam 5 tahun terakhir, tidak heran jika karakteristik film horor dengan nilai produksi yang tinggi akan muncul dalam periode beberapa tahun ke depan.

 

Tabel jumlah judul berdasarkan perolehan penonton

Kategorisasi jumlah penonton

 

Tentu saja keragaman di lingkup film genre yang berada dalam fluktuasi mekanisme pasar tidak perlu dikhawatirkan. Kepercayaan pada penonton film Indonesia yang membuat film seperti Dua Garis Biru (2019), Ngeri-Ngeri Sedap (2022), dan Mencuri Raden Saleh (2022) mendapat sambutan luas penonton . Perkembangan film Indonesia pasca 1998 menunjukkan mekanisme tersebut bekerja meramaikan tema film. Yang perlu menjadi perhatian adalah justru film-film yang mengeksplorasi batas-batas tema dan narasi  beresiko (tema kritis atas isu sosial-politik kontemporer) termasuk juga pada gaya dan teknik penceritaan. Film-film yang selama ini dilabeli sebagai film art house atau film festival (karena putaran tayangnya lebih banyak berada di sirkuit festival film dalam dan luar negeri). FIlm-film yang diproduksi dengan posisi kritis atas mekanisme pasar (trend penonton atas penggunaan aktor/aktris, struktur penceritaan, isu, dan lain-lainnya). Katakanlah film-film non-genre tersebut sebagai film non-mainstream. Banyak di antaranya mendapat penghargaan sebagai bentuk pengakuan. Hal di atas tidak saja tertuju pada film cerita tetapi juga film dokumenter.

Pernyataan perlunya perhatian pada film-film non-mainstream umumnya tertuju pada sektor produksi dan eksibisi. Yang pertama mengacu pada fasilitas-fasilitas dukungan yang disediakan oleh institusi pemerintah atau lembaga non-profit baik berupa dukungan pembiayaan atau berbagai kemudahan berproduksi. Sementara, yang kedua utamanya tertuju pada pelaku usaha eksibisi. Perhatian dapat berupa pemberian kesempatan bagi produser untuk secara optimal mendapatkan jumlah layar dan alokasi tayang (show) dan peluang tayang dalam jangka waktu (hari) yang panjang walau jumlah layar terbatas di bioskop tertentu. Di luar saluran melalui pelaku usaha eksibisi, perhatian terhadap film-film non-mainstream di sektor eksibisi dilakukan lewat program-program pemutaran di luar bioskop.

Terkait dukungan terhadap film-film cerita non-mainstream atau film dokumenter di sektor produksi, sudah terdapat program-program dukungan baik dalam maupun luar negeri. Saat ini FI tidak memiliki data yang cukup untuk melihatnya lebih jauh terkait dukungan di sektor produksi. Sementara, dari pengumpulan dan pengolahan data tayang film/show, FI memandang ruang dukungan di sektor eksibisi atas film-film non-mainstream oleh pelaku usaha eksibisi masih perlu diperluas. Era pandemi memang membuat media OTT berkembang dan menjadi saluran alternatif atau turut memperpanjang masa tayang bagi film-film non-mainstream, namun besarnya kebutuhan film-film non-mainstream tersebut berada di layar lebar di jaringan bioskop tidak berubah.

Dari segi akses, media OTT tidak membutuhkan ruang fisik tapi sangat membutuhkan jaringan internet, sehingga film dapat diakses dimana saja dengan perangkat yang beragam. Namun, dari sisi akses internet serta kapasitas kecepatan internet dengan memperhitungkan besaran wilayahnya, Indonesia masih menghadapi persoalan 12. Kemudahan akses internet yang lebih cepat didominasi oleh kota-kota besar. Selain dari segi akses yang lekat dengan kapasitas internet, eksklusivitas OTT atas sebuah film juga menjadi persoalan mengingat akuisisi hak tayang eksklusif bisa berlaku dalam jangka waktu yang panjang. Hal yang memaksa penonton untuk memiliki akun OTT lebih dari satu.

Kedua aspek tersebut di atas menunjukkan persebaran film, terutama film-film non-mainstream di bioskop masih sangat dibutuhkan. Persoalannya adalah ruang yang diberikan masih sangat terbatas, dari jumlah  alokasi layar, tayang, serta perlakukan penilaian berkala (yang menentukan apakah jumlah layar dan jam tayang ditambah atau dikurangi) membuat film-film non-mainstream sulit mendapat jumlah penonton signifikan. Sebagai gambaran, rata-rata film genre dengan lebih dari 100.000 penonton, mendapat di atas 700 jam tayang/show di hari pertama dan memperoleh jumlah tayang/show tertinggi lebih dari 1.000 tayang/show dalam beberapa hari. Angka tersebut dapat dibandingkan dengan beberapa film yang mendapat beberapa penghargaan festival film (dalam dan luar negeri) serta memiliki karakteristik non-mainstream, seperti yang ditunjukkan pada tabel di bawah ini.

 

Film non-mainstream

 

Selain film-film non-mainstream, keragaman juga dapat dihasilkan dengan menyebarkan film-film yang berasal dari luar pusat produksi film Indonesia yang masih terkonsentrasi di Jakarta atau pulau Jawa. Data FI menunjukkan berkembangnya produksi film di Aceh, Bali, Pontianak, Makassar, dan Palu. Hanya sebagian kecil saja yang bisa mendapat kesempatan tersebar di Indonesia (di luar kota produksi film) . Terkait film-film dari luar Jakarta dan Jawa, FI pernah memaparkannya di 2017 [Kaleidoskop 2017: Mengukur detak jantung industri film Indonesia]. Terbatasnya ruang eksibisi yang diterima oleh film-film non-mainstream pun dialami oleh film-film luar Jawa. Pada film dokumenter, jumlah layar dan show jauh lebih mengenaskan. Sebagai gambaran, di bawah tersaji data jumlah tayang/show beberapa film produksi luar Jawa dan film dokumenter yang pernah beredar di bioskop.

Tabel Sekilas Film Produksi Makassar, 2018-2022

Film-film Makassar

 

Tabel Sekilas Film Dokumenter, 2018-2022

Film-film Dokumenter

 

Di sisi lain, FI tidak memiliki data atas persebaran film import, sehingga klaim atas market share film Indonesia yang sudah mencapai di atas 61% tidak disertai data lebih detail terkait alokasi jumlah layar dan jam tayang/show, sehingga tidak bisa diperbandingkan dengan data film Indonesia. Walau demikian, kecilnya alokasi ruang eksibisi atas film-film non-mainstream (termasuk di dalamnya film produksi luar Jawa dan dokumenter) dan upaya memperluasnya memang tidak bisa sepenuhnya dibebankan pada kelompok usaha eksibisi atau pemilik bioskop.

Ketiadaan distributor film Indonesia di Indonesia menambah kompleksitas upaya di atas. Seperti umumnya produksi film Indonesia, penanganan distribusi film pasca produksi/rilis tetap dilakukan oleh rumah produksi (PH) atau produser yang bersangkutan. Pada kasus PH kecil-menengah, produser dan bahkan sutradaranya baru bisa fokus pada proyek film selanjutnya setelah peredaran bioskop periode pertama setelah rilis (first-run) benar-benar selesai. Panjangnya waktu belum termasuk jika kesepakatan dengan distributor di luar negeri belum tercapai.

Bisa dibayangkan, jika PH dan produser (serta sutradaranya) sedang dalam proses pra-produksi film baru (dalam kasus produksi film-film non-mainstream, fase script development dan pra produksi bisa memakan waktu lebih dari dua tahun), maka upaya peredaran film-film produksi sebelumnya dari PH yang bersangkutan tidak benar-benar ditangani secara optimal. Sementara, mengacu pada data film Indonesia yang ditayangkan bioskop, terbuka kemungkinan film diedarkan di bioskop setelah tahun edarnya selesai (second-run). Jika ada pihak distributor, maka jenis peredaran tersebut bisa ditangani secara lebih optimal, luar program roadshow film atau pemutaran-pemutaran di bioskop alternatif yang biasanya dilakukan oleh kegiatan film berbasis komunitas.

Mencari jalan keluar untuk memperluas ruang bagi film-film non-mainstream di bioskop adalah cara untuk mengimbangi atau memberi alternatif pilihan bagi produser dan sutradara selain ke OTT, baik langsung setelah selesai di sirkuit festival film tanpa ke bioskop nasional atau segera setelah film selesai beredar di bioskop. Pendeknya jeda dari tayang di bioskop (first-run yang tidak lama) ke OTT mungkin satu-satunya pilihan yang masuk akal agar produser (terutama untuk produksi non-mainstream) dapat “move on” untuk memulai lagi tahap pengembangan naskah cerita baru dengan tetap memperoleh pemasukan finansial dari transaksi dengan OTT. Skema pendeknya jeda dari bioskop ke OTT ini berlaku juga pada PH-PH besar dengan film-film box office-nya, sebagai bentuk masuknya ke ancillary market.

Sebagai gambaran, di bawah ini tabel beberapa film yang dilengkapi data tanggal film terakhir beredar di bioskop dan rilis di OTT.

Tabel waktu antara rilis bioskop dan OTT , 2018-2022

antara rilis bioskop dan OTT

Jika kembali pada pertanyaan sebelumnya tentang seberapa beragamnya film Indonesia saat ini (2021-2022) dibandingkan masa sebelumnya, jelas lebih beragam. Baik dari eksplorasi narasi film di dalam kategori genre, tema, termasuk film-film non-mainstream. Jika kita memasukkan keberadaan film-film Indonesia di OTT, akses film Indonesia menjadi lebih beragam. Tantangannya adalah, pertama tetap dibutuhkan memperluas keragaman di ruang bioskop. Kedua, jika kita membutuhkan data penonton film menjadi data publik, maka data yang setara dengannya di media OTT juga seharusnya tersedia bagi publik. Setidaknya, dengan data dari OTT, pemangku kebijakan dapat menyusun strategi untuk mencegah keseragaman akibat intervensi data-mining akses OTT. 

Penutup

Di luar bioskop, ketangguhan berbagai elemen di dalam industri film terlihat dalam menghadapi pandemi. Tentang hal ini sudah pernah diulas dalam paparan FI di periode 2020, baik upaya solidaritas antar sesama pekerja film hingga diterimanya berbagai media streaming film online (atau sering disebut sebagai OTT). Yang terakhir ini, pada awalnya menjadi sarana film-film yang tidak bisa rilis di bioskop dan beralih ke rilis di OTT. Namun dalam perkembangannya, mendorong produksi film dan series yang khusus diproduksi untuk tayang di OTT, dan juga mendorong majunya OTT-OTT lokal. Dari sisi akses, kehadiran OTT membuat akses publik terhadap film Indonesia semakin luas.

Di akhir 2022, menurut catatan FI, terdapat 966 judul film Indonesia yang tersebar di 8 OTT (KlikFilm, Netflix, Disney Hotstar, PrimeVideo, BioskopOnline, Viu, Catchplay, dan Vidio). Angka tersebut belum termasuk kanal putar film online lainnya yang tidak terdata oleh FI seperti Rangkai, Mola, dan lainnya serta tidak termasuk film pendek, film pendek dokumenter, FTV, dan series. Akses pada library film Indonesia turut membantu memperluas budaya menonton film Indonesia dalam jangka panjang, hal yang tidak bisa diberikan oleh bioskop. Bahwa media OTT pun menyisakan persoalan yang saat ini masih diperdebatkan terkait regulasi yang menaunginya, hal itu tidak menjadi bahasan dalam tulisan ini.

Pandemi jelas memberikan jejak pahit sekaligus pelajaran pada semua bidang, termasuk film. Adanya perubahan akibat penutupan, penundaan, pembatalan, beriringan dengan pembukaan peluang baru sekaligus jebakan-jebakan yang bisa menjerumuskan jika industri ini tidak belajar pada masa lalu. Berdasarkan catatan di atas, akhirnya yang melampaui harapan tidak saja soal capaian penonton film Indonesia, melainkan juga tersebarnya keragaman tontonan film Indonesia.

 

1. Vaksinasi Dosis 2 Telah Mencapai 70,38% dari Target Sasaran Vaksinasi Nasional, Rilis Kemenkes RI, 04 Maret 2022 [tautan]

2. Vaksinasi Booster Gratis, Dimulai 12 Januari 2022, Rilis Kemenkes RI, 11 Januari 2022 [tautan]

3. Bioskop, Mal, Pabrik, dan Tempat Ibadah Bisa Beroperasi 100%, Lenny Tristia Tambun (Berita Satu), 22 Maret 2022 [tautan]

4. Jawa-Bali PPKM Level 1, Ini Aturan Baru Ngemal & ke Bioskop, Chandra Asmara (CNBC Indonesia), 16 Agustus 2022 [tautan]

5. Kehadiran OTT di Indonesia sebelum 2020: KlikFilm (2015/2016), Hooq (2015, dilikuidasi pertengahan 2020), Catchplay (2016), Viu (2017). Baca juga, Netflix dan Hooq dianggap bangkitkan industri film RI, Kodrat Setiawan/Tempo.co, 30 Maret 2019 [tautan]

6. Badan Pusat Statistik, Statistik Indonesia 2022, hlm. 88. [unduh]

7. Ingin Membangun Gedung Bioskop di Indonesia, Irwan Wahyu Kintoko (Wartakota), 3 Juni 2019 [tautan]

8. Indonesian Films Race Past Pre-Pandemic Admissions Record, Liz Shackleton (Deadline), 22 Desember 2022 [tautan]

9. Tahun 2023, Penonton Film Indonesia Ditargetkan Pecahkan Rekor Baru, Willy Medi Christian Nababan (Kompas), 04 Januari  2023 [tautan]

10. The 2022 Indonesian Film Festival celebrates women and local film industry’s growth, Radhiyya Indra (The Jakarta Post), 24 November 2022 [tautan]

11. Biaya Produksi Film “Ivanna” Capai Rp12 Miliar, Manoj Punjabi: Hampir Menyamai “KKN di Desa Penari”, Dian Septina (Kompas), 13 Juli 2022 [tautan]

12. Unpacking Indonesia’s digital accessibility, Felippa Amanta (The Jakarta Post), 30 Juni 2022 [tautan]

Selengkapnya

Leave a Reply

Detik-detik Satpam Digigit Ular di Perumahan Elite Terekam Kamera Small Earthquake Rattles South Bay Near Milpitas Cantik Emma Stone yang Baru Saja Menikah Mobil Terbang Fenomena Halo Matahari di Langit Jawa Timur Prewedding Terbaru Nikita Willy & Bos Blue Bird Desa Nelayan Paling Nyentrik Dunia Kelebihan Tes COVID oleh Anjing Dibanding PCR Rumah Orang Terkaya Dunia Aksi Protes Perubahan Iklim Global di Berbagai Negara